Sejarah

Latar belakang nama Tukadaya mungkin sangat sulit untuk diuraikan disini mengenai latar belakang atau asal usu nama Tukadaya,mengingat tidak adanya sumber yang pasti untuk dijadikan pedoman dalam penulisan sejarah ringkas desa tukadaya ini. namun walapun demikian atas hasil pendekatan kepada yang tahu atau yang memberikan penjelasan,yakni beberapa pengelingsir ( orang -orang tua ) yang masih ada. berdasarkan cerita dari mulut ke mulut,maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nama tukadaya diambil dari nama sungai yang mengalir dibagian sisi tenggara dan selatan wilayah desa tukadaya.

Sungai ini yang dimaksud bernama tukadaya,pengertian tukadaya menimbulkan dua penapsiran atau tanggapan dari pengelingsir yakni berasal dari kata Tukad dan Aya. tukad berarti sungai,aya berarti besar. jadi tukadaya berarti sungsi yang besar/lebar. besar/lebar disini mengandung suatu maksud bahwa tebing sungainya tidak setabil, melainkan sering berpindah-pindah. pendapat yang lain mengatakan bahwa tukadaya berasal dari kata Tukad dan Daya. tukad berarti sungai, Daya berarti banyak mempunyai akal dari sifat - sifat yang ditunjukan oleh sungai itu sendiri yakni, tebingnya sering berpindah-pindah,banyak berkelok-kelok dan boleh dikatakan dibeberapa bagian nampak nampak kering tapi sebenarnya masih mengandung sumber mata air yang kuat. dari kedua keterangan diatas dapat disimpulan nama tukadaya berasal dari kata Tukad dan Aya,lama kelamaan hapal pengucapannya berubah menjadi Tukadaya.

Perkembangan Desa Tukadaya, Sekitar tahun 1927 ada dua orang yang bernama nang Pedes (alm) berasal dari desa baluk dan nang saad (alm) berasal dari banyubiru, mereka bersama-sama berangkat menuju hutan bagian barat dengan membawa rombongan,mengadakan perabasan hutan dari sebelah barat sungai tukadaya sampai kewilayah tuwed, candikusuma, ekasari dan melaya yang sekarang.setiap kali mereka akan bekerja atau merabas hutan mereka selalu memohon keselamatan dibawah disebuah pohon bunut yang besar (dipura puseh desa tuwed sekarang). sekitar tahun 1900 sebelum melakukan perabasan keadaan disebalah barat sungai tukadaya merupakan hutan belantara yang belum berpenghuni,namun hubungan lalu lintas dari baluk dan banyubiru menuju penginuman sudah sering dilakukan melalui jalan kaki,melalui babad (jalan setapak) yang kini sudah menjadi jalan  raya sebagai urat nadi perekonomian penghubung antara denpasar dan gilimanuk.

Sebagai persinggahan sambil melepas kelelahan setiap berjalan kaki pada waktu itu, adalah sebuah munduk yang sekarang disebut dengan munduk ranti. karena pada saat itu ada sebuah pondok yang dihuni oleh seorang nenek yang bernama dadong ranti. musim terus berganti dan keadaan semakin maju pada tahun 1933 tugas kepala rombongan diganti oleh I Nyoman Keweh (alm) yang pada saat itu bersetatus Kelian Alas. kelihan adalah orang yang lebih tua. yang bertugas menjadi pempinan rombongan yang bertanggung jawab mengembangkan daerah perbasan saat itu.

Pada tahun 1940 I Nyoman Kewh ditahan oleh pemerintahan kolonial Belanda waktu itu dan atas penunjuk belanda jabatan beliau (sebai makel) diserahterimakan kepada saudara yang bernama Seriyasna (alm). pada tahun 1950 I Nyoman Keweh keluar dari tahanan dan beliau dipilih kembali oleh masyarakat menjadi pebekel menggantikan kedudukan saudara Seriyasna (alm) dalam jabatan ini dipegang sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1956. Sebagai penggantinya dipilihlah penuliasnya (sekretaris) yaitu I Ketut Kaler yang menjadi perbekel desa tukadaya dari tahun 1956 s/d 1977. ini adalah pengabdian yang cukup lama selama dalam sejarah keperbekelan digantikan oleh I Nyoman Suadia yang diangkat berdasarkan Sk Bupati Jembrana Nomor 037/Pem/Skp/X/1977 tanggal 2 Desember 1977 sampai dengan 1985.

Pada tahun 1986 dipilih kembali seorang perbekel yang bernama I Ketut Sapta yang dipilih langsung oleh masyarakat desa tukadaya sampai tahun 2002. dan pada tahun 2002 bulan desember di pilih kembali seorang perbekel yang bernama I Ketut Wisnu Wardana. Pada tahun 2013 dipilih kembali seorang perbekel yang bernama I Made Budi Utama secara langsung oleh masyarakat dengan Sk Bupati Jembrana Nomor 740/BPMPD/2013 sampai sekarang. 

Desa Tukadaya merupakan salah satu dari 9 Desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Melaya dengan wilayah seluas 1.369,445 Ha, dengan jarak orbitasi Desa Tukadaya dengan Ibu Kota Kecamatan adalah 8 Km, dan jarak Ibu Kota Kabupaten adalah 10 Km. Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Hutan Negara

Sebelah Selatan : Sungai Tukadaya

Sebelah Timur : Desa Banyubiru, Desa Manistutu

Sebelah Barat : Desa Tuwed, Desa Warnasari

Secara topografi wilayah Desa Tukadaya memiliki titik terendah mencapai 33 MDPL dan titik tertinggi mencapai 600 MDPL dengan kemiringan tanah rata-rata 35⁰.

Ditinjau dari segi pemanfaatan tanah di Desa Tukadaya yang memiliki luas lahan 1.369,445 Ha dengan pemanfaatan untuk sawah seluas 331,50 Ha, untuk pekarangan rumah seluas 87,540 Ha, untuk tegalan/perkebunan seluas 841,245 Ha dan pemanfaatan lain-lain seluas 109,16 Ha.

Secara administratif Desa Tukadaya terdiri dari 8 (delapan ) Banjar dan Berikut data nama-nama Banjar,

  1. Munduk Ranti
  2. Pangkung Jajang
  3. Sarikuning
  4. Sarikuning Tulung Agung
  5. Berawantangi
  6. Berawantangi Taman
  7. Sombang
  8. Kembang Sari
Pengaduan Online

0818-0559-4730
Aparatur Desa
Perbekel

I Made Budi Utama

Sinergi Program

CONTACT

Jalan Negara – Gilimanuk, Km. 10

No.Telp 0815-5835-3593

FB. Pemerintah Tukadaya

IG. Pemerintah Tukadaya

EXTERNAL LINK